MODUL PI
KALORIMETER
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kalor
merupakan salah satu bentuk energi maka kalor merupakan besaran fisika yang memiliki satuan, kalor tidak
dapat terlihat oleh mata, tetapi pengaruhnya dapat kita rasakan atau kita
ketahui. Pengukuran-pengukuran kalor sangat berkaitan dengan kalor jenis zat.
Pengukuran kalor menggunakan alat yang dinamakan kalorimeter. Kalorimeter
umumnya digunakan untuk menentukan kalor jenis suatu zat. Kalorimeter
menggunakan teknik percampuran dua zat di dalam suatu wadah. Jika kalor jenis
suatu zat diketahui,kalor jenis zat lain yang dicampur dengan zat tersebut
dapat diketahui.
Diadakannya
pratikum kali ini bertujuan untuk mengetahui lebih luas tentang kalorimeter.
Pengetahuan tentang calorimeter sangat berperan penting dalam kehidupan
sehari-hari diantaranya pada setrika listrik, rice cooker, microwave, pengasap
ikan, pemanas ikan, pemanas air listrik dan lain-lain. Alat-alat itu memiliki
prinsip kerja seperti kalorimeter yaitu energi listrik yang diubah menjadi
energi kalor. Seperti kalorimeter yang mempunyai prinsip energi kalor dan
diukur menggunakan kalorimeter sehingga energi listrik, energi kalor dan nilai kesetaraan kalor listrik dapat
dihitung.
Pada
dasarnya alat-alat pemanas yang kita gunakan pada umumnya merubah energy
listrik menjadi energi panas atau energi kalor. Biasanya untuk mendeteksi
adanya kalor atau panas yang terdapat dalam suatu benda digunakan alat ukur
suhu benda. Pada pratikum ini digunakan alat termometer, kalorimeter, neraca,
pemanas, dan bejana didih.
1.2 Tujuan
1. Menentukan
kalor lebur es.
2. Menentukan
panas jenis serta kapasitas panas berbagai logam.
BAB II
LANDASAN
TEORI
2.1 Kalor
Kalor adalah energi yang dapat diteruskan oleh suatu benda ke
benda yang lain dengan cara
konduksi, perolakan atau penyinaran intensitas kalor diukur oleh suatu benda
atau oleh sistem atau satuan benda lainnya. Dianggap sebagai penjelmaan gerakan
kacau-balau molekul-moleku karena jika suatu bahan memperoleh kalor,
molekul-molekunya memperlihatkan percepatan dalam gerakan transiasi putaran dan
getaran dalam (Pudjaatmaka, 2002 : 356-357).
Jika dalam menerima kalor maka zat itu akan mengalami
suhu tertentu/hingga tingkat tertentu sehingga zat tersebut akan mengalami
perubahan wujud, seperti perubahan wujud dari padat menjadi cair. Begitu sebaliknya bila suatu
zat mengalami perubahan wujud dari cair ke padat maka zat tersebut akan
melepaskan sejumlah kalor. Dalam satuan kalor (Q), dinyatakan dalam satuan
kalori (Kal) atau Joule (J).
1 Kalori = 4,18
Joule
1 Kalori adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk
memanaskan 1 gram zat untuk menaikkan suhu 1ᵒC. Jumlah kalor tersebut disebut
kalor jenis
Q = m.c.
T
dengan satuan kalor jenis (c) adalah J/gᵒC atau J/KgᵒC (Petrucci, 1987
:
165).
Kalor yang dibutuhkan untuk meleburkan 1 Kg zat padat
menjadi zat cair pada titik leburnya. Kalor lebur mempunyai harga yang sama
dengan persamaan kaor lebur (L);
L=
atau
Q=m.L
Sehingga satuan pada kalor lebur adalah J/Kg. Dan
jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menguapkan 1 Kg zat pada titik didihnya
didapat dengan persamaan;
Q=m.U
Dengan kalor uap (U) memiliki satuan J/Kg (Umar, 2008
:
110-111).
Untuk menghitung kapasitas kalor (C) suatu zat yang
merupakan jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sejumlah zat sebesar
1ᵒC dapat dicari dengan persamaan;
C =
atau C = m.c
Dengan satuan kapasitas kalor (C) adalah J/ᵒC dan
kalor jenis (c) adalah J/ KgᵒC (Chang, 2004
: 172-173).
2.2 Kalorimeter
Kalorimeter adalah alat yang dipakai untuk percobaan
yang berhubungan dengan kalor. Kalorimeter didesain sedemikian sehingga
perpindahan kalor ke lingkungannya terjadi seminimum mungkin. Pada
dasarnya sebuah kalorimeter terdiri dari
dua bejana yang terpisahkan oleh ruang udara (ingat udara adalah penghantar
yang buruk). Bejana disebelah dalam terbuat dari alumunium mengkilat untuk
megurangi penyerapan kalor oleh bejana (dinding). Tutp bejana terbuat dari kayu
yang merupakan penghantar yang buruk (agar tidak banyak panas yang hilang)
(Surya, 2002 : 33).
2.2.1 Kalorimeter Volume-Konstan
Kalor pembakaran biasanya diukur dengan menempatkan
senyawa yang diketahui dalam wadah baja yang disebut kalorimeter bom volume
konstan yang diisi pada tekanan 30 atm dengan oksigen. Sampel dihubungkan
kelistrik dan kalor yang dihasilkan pembakaran dapat dihitung dengan mencatat
kenaikkan suhu air. Kaorimeter ini memungkinkan kita untuk mengansumsikan bahwa
tidak ada kalor (atau massa) yang hilang kelingkungan selama waktu pengukuran.
Jadi kita dapat menyebut bom itu dan air tempat pencelupannya sebagai sistem
terisolasi. Karena tidak ada kalor yang masuk atau meninggalkan sistem selama
proses berlangsung, perubahan kalor sistem (Qreaksi) harus nol dan
dapat ditulis dengan;
Qsistem =
Qkal +Qreaksi
= 0
(Gambar 1 : Kalorimeter Bom Volume
Konstan)
2.2.2 Kalorimeter Tekanan-Konstan
Kalorimeter ini mengukur kalor pada berbagai reaksi,
seperti penetralan asam-basa, kalor pelarutan dan kalor pengenceran. Kaena
tekanannya yang tetap, perubahan kalor untuk proses (Qreaksi) sama
dengan perubahan entalpi. Dengan mengabaikan kapasitas kalor karena kalorimeter
ini terbuat dari dua cangkir Styrofoam. Dan kalor yang dihasilkan atau diserap
reaksi dapat ditentukan dengan mengukur perubahan suhu
(Chang, 2004
: 173-176).
(Gambar 2 : Kalorimeter Tekanan Konstan)
BAB III
PROSEDUR
PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1
Alat
1. Kalorimeter
Digunakan
untuk mengukur kalor atau energi panas.
2. Termometer
Digunakan
untuk mengukur suhu.
3. Pemanas
dan bejana didih
Digunakan
untuk memanaskan air.
4. Neraca
Digunakan
untuk menimbang suatu benda.
3.1.2
Bahan
1. Keping-kepingan
logam
Digunakan
sebagai bahan untuk menentukan kalor jenis logam.
2. Es
batu
Digunakan
sebagai bahan untuk menetukan kalor lebur es.
3. Air
Digunakan
untuk menentukan nilai air kalorimeter.
3.2 Cara Kerja
3.2.1
Menentukan Nilai Air Kalorimeter
1.
Dididihkan air dibejana didih, dicatat
temperatur saat air mendidih (Tp).
2.
Ditimbang kalorimeter kosong dengan
pengaduknya, dicatat massa kalorimeter (mk).
3.
Diisi kalorimeter dengan air (± ¼ bagian
kalorimeter), dicatat massa air (ma).
4.
Dimasukkan kalorimeter kedalam selubung
luarnya, dicatat temperatur termometer (Ta).
5.
Ditambahkan air mendidih hingga ¾
bagian, dicatat temperatur kesetimbangan (Ts).
6.
Ditimbang kembali kalorimeter tanpa
selubung, dicatat massa air yang ditambahkan (mp).
3.2.2
Menentukan kalor lebur es
1.
Disipkan potongan es, dicatat temperatur
es tersebut (Tes).
2.
Ditimbang kalorimeter kosong dengan
pengaduknya, dicatat sebagai massa kalorimeter (mk).
3.
Diisi kalorimeter dengan air (± ½ bagian
kalorimeter), dicatat massa air (ma).
4.
Dimasukkan kalorimeter kedalam selubung
luarnya, dicatat temperatur kalorimeter (Ta),
5.
Dimasukkan potongan es kedalam
kalorimeter, dicatat temperatur kesetimbangan (Ts).
6.
Ditimbang kembali kalorimeter tanpa
selubung, dicatat massa es yang ditambahkan (mes).
3.2.3
Menentukan klor jenis logam
1.
Ditimbang keping-kepingan logam catat
sebagai mlgm dan dipanaskan, dicatat temperatur
logam tersebut (Tlgm).
2.
Ditimbang kalorimeter kosong dengan
pengaduknya, dicatat massa kalorimeter (mk).
3.
Diisi kalorimeter dengan (± ¾ bagian
kalorimeter) dicatat massa air (ma).
4.
Dimasukkan kalorimeter kedalam
selubungnya, dicatat temperatur kalorimeter (Ta).
5.
Dimasukkan keping-keping logam tadi
kedalam kalorimeter dan dicatat temperatur kesetimbngan (Ts).
6.
Diulangi untuk logam-logam lainnya.
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
|
Keadaan
Laboratorium
|
Sebelum Percobaan
|
Sesudah Percobaan
|
|
Suhu
|
31,7 oC
|
31,6 oC
|
|
Kelembaban
Relatif
|
85,0 %
|
87,3 %
|
4.1.1 Nilai Air Kalorimeter
|
Tp (oC)
|
Mk (kg)
|
Ma (kg)
|
Ta (oC)
|
Ts (oC)
|
Mp (kg)
|
|
98
|
105
|
26,2
|
29
|
72
|
73,8
|
|
94
|
105,4
|
35
|
30
|
66
|
97,9
|
4.1.2 Kalor Lebur Es
|
Tes (oC)
|
Mk (kg)
|
Ma (kg)
|
Ta (oC)
|
Ts (oC)
|
Mes (kg)
|
|
1
|
109,5
|
59,8
|
28
|
4
|
46,6
|
|
1
|
109,5
|
59
|
28
|
2
|
44,7
|
4.1.3 Kalor Jenis Logam
|
Jenis
Logam
|
Mlgm (kg)
|
Tlgm (oC)
|
Mk (kg)
|
Ma (kg)
|
Ta (oC)
|
Ts (oC)
|
|
Besi
|
10
|
93
|
105,5
|
87,4
|
29
|
30
|
|
Besi
|
51
|
75
|
105,5
|
90,5
|
29
|
33
|
|
Kuningan
|
100
|
81
|
105,6
|
91,3
|
30
|
36
|
4.2 Perhitungan
4.2.1 Nilai Air Kalorimeter
=
=
4.2.2 Kalor Lebur Es
4.2.3 Panas Jenis (c)
1. Besi 10 gram
2. Besi 51 gram
3. Kuningan 100 gram
4.2.4 Kapasitas Kalor (C)
1. Besi 10 gram
2. Besi 51 gram
3. Kuningan 100 gram
4.2.5 Teori
Ralat
4.2.5.1 Nilai Air Kalorimeter
RM
=
=
=
=
=
67,154
J/oC
RN =
100%
=
100%
=
53,94%
4.2.5.2
Kalor Lebur Es
RM
=
=
=
=
=
15.908,1727
J/kg
RN =
100%
=
100%
=
12,03%
4.2.5.3
Panas Jenis / Kalor Jenis
RM
=
=
=
=
= 100,0798
J/kgoC
RN =
100%
=
100%
=
16,73%
4.2.5.4
Kapasitas Kalor Kalor
RM
=
=
=
=
= 22,9754
J/oC
RN =
100%
=
100%
=
74,34%
4.3 Pembahasan
Pada
praktikum kali ini akan membahas mengenai kalorimeter, dimana kalor merupakan
besaran fisika yang memiliki satuan. Kalor tidak dapat terlihat oleh mata,
tetapi dapat dirasakan pengaruhnya di kehidupan. Contohnya pada saat tengah
hari maka pintu lipat akan memuai dikarenakan energi panas sehingga sulit untuk
menutup pintu tersebut. Hal ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pengukuran kalor sendiri dapat menggunakan alat yang dinamakan dengan
kalorimeter.
Pada
praktikum ini adapun tujuan dari percobaan yaitu menentukan kalor lebur es dan
menentukan panas jenis serta kapasitas panas berbagai logam. Praktikum ini
dilakukan tiga kali percobaan yaitu nilai air kalorimeter, kalor lebur es, dan
kalor jenis logam. Sebelum melakukan praktikum ,percobaan kali ini erat sekali
dengan kaitannya dengan suhu dan
kelembaban lingkungannya. Dimana pada saat percobaan berlangsung diketahui suhu
dan kelembaban lingkungannya. Pada saat praktikum berlangsung diketahui suhu sebelum
percobaan adalah 31,7 derajat celcius dan setelahnya 31,6 derajat celcius.
Suhunya menurun, namun tetap dalam skala yang tinggi sehingga hal ini tidak mempengaruhi bahan-bahan serta alat yang akan
diuji. Sementara kelembaban relatif sebelum percobaan adalah 85% dan setelahnya
adalah 87,3%.
1.
Menentukan Nilai Air Kalorimeter
Dalam percobaan
ini digunakan alat pengukur jumlah energi panas atau energi kalor yaitu
kalorimeter. Kalorimeter yang digunakan terbilang cukup sederhana, kalorimeter
harus terlebih dahulu dilengkapi dengan
termometer untuk mengukur suhu didalamnya dan batang pengaduk untuk mengaduk
larutan didalamnya. Bagian luar atau selubung dari kalorimeter dibuat dengan
bahan isolator sehingga ketika kalorimeter dimasukkan ke selubung luarnya maka
tidak akan terpengaruh lagi dengan panas di lingkungan.
Dalam
percobaan ini, pendidihan air dilakukan belakangan karena suhu air yang
diperlukan adalah suhu pada saat air
mendidih. Sehingga apabila pendidihan dilakukan pertama kali sesuai pada
prosedur percobaan, maka akan mengakibatkan penurunan suhu bila dibiarkan
terlalu lama.
Percobaan
ini melakukan dua kali pengulangan, didapatkan massanya berubah-ubah. Hal
demikian dapat terjadi karena pengaruh suhu. Pengaruh suhu disini maksudnya
adalah pada pengulangan pertama kalorimeter diisi dengan air biasa lalu suhu
kesetimbangan di dapat setelah mencampurnya dengan air mendidih, otomatis suhu
air didalam atau Ts mempengaruhi suhu wadah kalorimeter dan pada pengulangan
kedua digunakan kalorimeter yang sama. Dengan demikian diketahui bahwa suhu tadi
mempengaruhi massanya, dimana suhu suhu tinggi atau suhu panas dapat menambah
massa dari suatu benda atau zat.
Tujuan
pertama percobaan ini adalah mencari nilai air kalorimeter. Nilai air
kalorimeter diperoleh dari penjumlahan kalor atau Qair biasa dengan Qair panas.
Sehingga Na yang didapat melalui percobaan ini adalah 77,06 J/ oC
untuk
pengulangan pertama dan 171,98 J/ oC untuk pengulangan yang kedua. Dimana pengulangan pertama didapatkan suhu awal 29 oC dan suhu campuran 72 oC sedangkan pada pengulangan kedua didapatkan suhu awal 30 oC dan suhu campuran 66 oC. Dan untuk massa air biasa yang digunakan pada pengulangan pertama adalah 26,2
10-3 kg dan massa air panas 73,8
10-3 kg sedangkan untuk massa air biasa yang digunakan pada pengulangan kedua adalah 35
10-3 kg dan massa air panas 97,9
10-3 kg. Berdasarkan ketetapan rumus nilai air kalorimeter, perbedaan nilai air kalorimeter tersebut disebabkan
oleh suhu dan massa yang berbeda disetiap pengulangan.
2.
Menentukan Kalor Lebur Es
Pada percobaan
ini menggunakan bahan yaitu es batu. Seperti yang diketahui bahwa air memiliki
titik beku 0 C disaat membeku menjadi es. Namun yang terjadi pada percobaan ini
adalah es batu yang digunakan pada saat suhunya diukur, suhu es atau Tes
mencapai 1 oC. Hal demikian mungkin
terjadi karena pengaruh suhu dilingkungan. Dimana pada saat percobaan
berlangsung suhunya terbilang tinggi sehingga es batu sedikit mencair dan
suhunya naik.
Berdasarkan
percobaan yang dilakukan, didapatkanlah dengan rumusan Qlebur yang akan dicari
disini adalah kalor lebur es yang
dilambangkan dengan Les. Kalor lebur memiliki definisi sebagai banyaknya kalor
yang diperlukan oleh satu kilogram zat untuk merubah wujud padat menjadi cair.
Kalor lebur es yang didapatkan dalam percobaan adalah 120.950,3226 J/Kg untuk
pengulangan pertama dan 143.447,8747 J/Kg
untuk
pengulangan kedua. Perbedaan terlihat pada massa esnya dan massa air biasa yang digunakan,
dimana pada pengulangan
pertama massa es 46,6
10-3kg dan pada pengulangan kedua massa esnya 44,7
10-3kg dikarenakan saat pengukuran yang
kedua massa esnya telah berkurang akibat es batu yang sudah banyak mencair. Sedangkan pada massa air biasa pada pengulangan
pertama 59,8
10-3kg dan massa air biasa pada pengulangan kedua adalah 59
10-3kg.
Bila
dibandingkan dengan literatur, ketetapan untuk kalor lebur es adalah 333.000
J/Kg. Hal ini sangat berbeda dengan kalor lebur es yang didapat dari percobaan.
Penyebabnya bisa dikarenakan pada literatur titik beku airnya berada pada 0oC
(Giancolli,2014:491-492).
3.
Menentukan Kalor Jenis Logam
Pada percobaan
ini menggunakan tiga jenis logam yaitu
dua buah logam besi dan kuningan. Massa logam sudah tertera pada permukaan
logam, masing-masing logam 10 gram,50 gram dan 100 gram. Namun sesuai dengan
langkah kerjanya maka logam yang sudah diketahui massanya tadi ditimbang
kembali. Terjadi perbedaan massa pada logam besi bermassa 50 gram, dimana skala
menunjukkan bahwa massa logam besi ini adalah 51gram. Hal demikian bisa saja
terjadi karena adanya kesalahan pada saat penimbangan. Namun mengingat setiap
sebelum menimbang neraca selalu dikalibrasi ulang, maka hal ini bisa saja
akibat logam besi yang sering dipanaskan. Hal ini bisa dikaitkan dengan
penemuan yang diamati oleh lavoiser sebelum mencetuskan hukum lavoiser. Dimana
ia membuktikan bahwa jika sebuah logam dipanaskan diudara, maka massa logamnya
akan bertambah sesuai dengan massa oksigen ysng diambilnya dari udara tersebut.
Dari sini bisa diketahui bahwa logam ini mudah menyerap panas atau kalor. Logam
yang mudah atau cepat menyerap panas adalah logam besi. Besi merupakan konduktor yang sangat
baik.
Berdasarkan
percobaan ini, dapat dihitung kalor atau panas jenis logam yang dilambangkan
dengan c. panas jenis adalah banyaknya
energi yang dibutuhkan untuk menaikkan satu derajat celcius pada satu gram zat
murni. Disini terjadilah prinsip atau azas black, kalor yang dilepas sama
dengan kalor yang diterima. Kalor yang dilepas berasal dari logam sedangkan
yang menerima adalah air. Nilai c untuk masing-masing logam adalah 579,89 J/KgᵒC;
706,42 J/KgᵒC;dan 508,84 J/KgᵒC.
Berdasarkan
literatur , nilai kalor jenis untuk logam besi adalah 450 J/KgᵒC dan kuningan
dalam literatur tidak tercantumkan datanya. Namun seperti yang diketahui
kuningan merupakan gabungan antara tembaga dan seng. Untuk perbandingan, kalor
jenis tembaga 390 J/KgᵒC. Nilai literatur pun berbeda dengan hasil percobaan. Hal ini diakibatkan
karena kesalahan penimbangan massa,aturan suhu logam,pengaruh lingkungan,
hingga perbedaan
massa logam yang digunakan pada literatur. Untuk suhu pada literatur dilakukan
pada suhu 20 ᵒC , ini merupakan perbedaan dari suhu lingkungannya. Sebagai
perbandingan pada literatur nilai cair pada berbagai wujudnya sangat tinggi
dibandingkan logam. Hal ini mengakibatkan logam lebih cepat panas dibandingkan
dengan air.
Penentuan
kapasitas kalor atau C dipengaruhi oleh masa logam dan kalor jenis suatu logam.
Kalor jenis logam yang digunakan adalah yang didapat dari hasil percobaan. Sehingga didapatkan nilai kapasitas kalor C
secara berurutan adalah 5,7989 J/C dan 36,03 J/C.
Adapun hal lain yang dapat terjadi dan berpengaruh pada percobaan ini adalah kesalahan dalam penggunakan
alat-alat praktikum seperti kesalahan
titik nol pada neraca
atau kesalahan
kalibrasi alat yang digunakan,
dimana skala pada alat sebelum pengukuran tidak tepat pada skala nol sehingga
mempengaruhi hasil sebenarnya, kesalahan paralaks yaitu
kesalahan praktikan dalam
pembacaan skala pada pengukuran, atau dapat disebakan juga oleh kondisi alat yang digunakan
kurang baik atau mengalami kerusakan.
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Nilai
air kalorimeter yang didapat adalah sesuai dengan rumus;
2. Kalor lebur es yang didapatkan pada
percobaan ini sesuai dengan
rumus;
3. Didapatkan nilai panas jenis besi dengan menggunakan rumus;
4. Berdasarkan data pada panas jenis
dapat ditentukan kapasitas kalor besi dengan
rumus;
rumus;
5.2 Saran
Sebaiknya
alat kalorimeter yang digunakan dalam kondisi lebih baik lagi, karena kondisi
kalorimeter yang digunakan pada praktikum ini sudah tidak memiliki pengaduk
serta kurangnya keakuran pada alat yang menyebabkan terjadinya kesalahan.
DAFTAR
PUSTAKA
Chang, Raymond
.
2004
.
Kimia Dasar Konsep-Konsep
Inti Edisi Ketiga Jilid
I . Jakarta : Erlangga.
Petrucci, Ralph H
.
1987
.
Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 2
Edisi
Keempat
.
Jakarta
: Erlangga.
Pudjaatmaka, A Hadyana
.
2002
.
Kamus Kimia
.
Jakarta
: Balai Pustaka.
Surya, Yohanes
.
2009
.
Suhu dan Termodinamika
.
Tanggerang
: PT.
Kandel.
Umar, Efrizon . 2008 . Buku Pintar Fisika
.
Jakarta
: Media Pusindo.
JAWABAN
PERTANYAAN
1. Berikan
pembahasan tentang asas Black sehingga mendapatkan persamaan yang akan
digunakan pada percobaan ini (A,B,C) ?
Jawab :
Menurut asas Black,
apabila ada 2 benda yang memiliki suhu yang berbeda, kemudian disatukan, maka
akan terjadi aliran kalor dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah.
Aliran ini akan berhenti sampai terjadi kesetimbangan termal, (suhu kedua benda
sama), secara matematis :
Q lepas = Q
terima .
Kapasitas kalorimeter :
∆Q air + ∆Q k =
∆Q air mendidih
m1 x c1 x ∆T1 +
mk x ck x ∆T = m2 x c2 x ∆T2
Sehingga ck dapat ditentukan.
2. Tuliskan
definisi panas jenis, kalor lebur, kapasitas kalor? Tulis dimensi dari
masing-masing besaran ?
Jawab :
1. Kalor
Jenis : Banyaknya kalor yang diserap oleh suatu benda bermassa
tertentu untuk
menaikkan suhu sebesar 1oC.
Dimensi
: [L]2 [T]-2[ѳ]-1
2. Kalor
Lebur : Banyaknya kalor yang diperlukan oleh 1 kg zat untuk merubah wujud dari padat menjadi cair.
Dimensi : [L]2
[T]-2
3.
Kapasitas Kalor : Banyaknya kalor yang
diserap oleh suatu benda bermassa tertentu untuk menentukan suhu sebesar 1oC.
Dimensi
: [M] [L]2 [T]-2[ѳ]-1
3. Apa
yang dimaksud dengan nilai air kalorimeter ?
Jawab :
Nilai air kalorimeter
adalah kapasitas kalor kalorimeter yang dinyatakan dengan kapasitas kalor air.
4. Apa
yang dimaksud dengan kesetimbangan ?
Jawab :
Kesetimbangan adalah keadaaan
dimana temperatur dan tekanan suatu sistem memiliki harga yang sama.
EVALUASI
AKHIR
1. Hitung
nilai air kalorimeter ?
Jawab :
Na1 =
=
=
=
77,01 J/ ̊C
Na2 =
=
=
=
171,98 J/
̊C
2. Hitung
kalor lebur es, panas jenis logam dan kapasitas kalor dari logam yang digunakan
?
Jawab :
1. Kalor
Lebur Es
Q lebur = Mes x Les
Ma x ca
x ∆T = Mes x Les
59,8 x
x
4180 x 24= 46,6 x
x
Les
Les1 = 120.950,32 J/kg
Q
lebur = Mes x Les
Ma
x ca x ∆T = Mes x Les
59
x
x
4180 x 26 = 44,7 x
x
Les
Les2 = 143.447,87 J/kg
2. Panas
Jenis Logam
1. Besi
10 gram
Q logam = Q air
M logm x C logm x ∆T = M
air x C air x ∆T
10 x
x C
logm x 63 = 87,4 x
x
4180 x 1
C lgm = 579,89 J/kg ̊C
2. Besi
51 gram
Q logam = Q air
M logm x C logm x ∆T = M
air x C air x ∆T
51 x
x C
logm x 42 = 90,5 x
x
4180 x 4
C lgm = 706,42 J/kg ̊C
3. Kuningan
100 gram
Q logam = Q air
M logm x c logm x ∆T = M
air x c air x ∆T
100 x
x c
logm x 45 = 91,3 x
x
4180 x 6
C lgm = 508,84 J/kg ̊C
3. Kapasitas Kalor
C
= M logm x c logm
1. Besi
10 gram
C =
10 x
x
579,89
= 5,7989 J/ ̊C
2. Besi
51 gram
C =
51 x
x
706,42
= 36,03 J/ ̊C
3. Kuningan
100 gram
C =
100 x
x
508,84
= 90,884 J/ ̊C
Berdasarkan literatur,
nilai kalor jenis besi adalah 450 J/kg ̊C, sedangkan kuningan sekitar 380 J/kg
̊C, dan untuk kalor lebur air adalah 333 x
J/kg, untuk titik beku 0 ̊C.
3. Buat
analisis dan berikan kesimpulan percobaan ?
Jawab :
Setelah
dilakukan pengolahan data, didapat bahwa hasil yang diperoleh pada percobaan,
sedikit berbeda dengan tetapan yang ada di literatur. Setelah dianalisis, hal
ini disebabkan memungkinkannya praktikan melakukan kesalahan, namun selain itu
faktor eksternal seperti suhu dan kelembaban, serta perlakuan yang diberikan
bisa menjadi faktor lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar