10 April 2016

KALORIMETER Laporan

MODUL PI
KALORIMETER
BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Kalor merupakan salah satu bentuk energi maka kalor merupakan besaran  fisika yang memiliki satuan, kalor tidak dapat terlihat oleh mata, tetapi pengaruhnya dapat kita rasakan atau kita ketahui. Pengukuran-pengukuran kalor sangat berkaitan dengan kalor jenis zat. Pengukuran kalor menggunakan alat yang dinamakan kalorimeter. Kalorimeter umumnya digunakan untuk menentukan kalor jenis suatu zat. Kalorimeter menggunakan teknik percampuran dua zat di dalam suatu wadah. Jika kalor jenis suatu zat diketahui,kalor jenis zat lain yang dicampur dengan zat tersebut dapat diketahui.
Diadakannya pratikum kali ini bertujuan untuk mengetahui lebih luas tentang kalorimeter. Pengetahuan tentang calorimeter sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari diantaranya pada setrika listrik, rice cooker, microwave, pengasap ikan, pemanas ikan, pemanas air listrik dan lain-lain. Alat-alat itu memiliki prinsip kerja seperti kalorimeter yaitu energi listrik yang diubah menjadi energi kalor. Seperti kalorimeter yang mempunyai prinsip energi kalor dan diukur menggunakan kalorimeter sehingga energi listrik, energi kalor dan  nilai kesetaraan kalor listrik dapat dihitung.
Pada dasarnya alat-alat pemanas yang kita gunakan pada umumnya merubah energy listrik menjadi energi panas atau energi kalor. Biasanya untuk mendeteksi adanya kalor atau panas yang terdapat dalam suatu benda digunakan alat ukur suhu benda. Pada pratikum ini digunakan alat termometer, kalorimeter, neraca, pemanas, dan bejana didih.

1.2       Tujuan
1.      Menentukan kalor lebur es.
2.      Menentukan panas jenis serta kapasitas panas berbagai logam.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1       Kalor
Kalor adalah energi yang dapat diteruskan oleh suatu benda ke benda yang lain dengan cara konduksi, perolakan atau penyinaran intensitas kalor diukur oleh suatu benda atau oleh sistem atau satuan benda lainnya. Dianggap sebagai penjelmaan gerakan kacau-balau molekul-moleku karena jika suatu bahan memperoleh kalor, molekul-molekunya memperlihatkan percepatan dalam gerakan transiasi putaran dan getaran dalam (Pudjaatmaka, 2002 : 356-357).
Jika dalam menerima kalor maka zat itu akan mengalami suhu tertentu/hingga tingkat tertentu sehingga zat tersebut akan mengalami perubahan wujud, seperti perubahan wujud dari padat  menjadi cair. Begitu sebaliknya bila suatu zat mengalami perubahan wujud dari cair ke padat maka zat tersebut akan melepaskan sejumlah kalor. Dalam satuan kalor (Q), dinyatakan dalam satuan kalori (Kal) atau Joule (J).
1 Kalori = 4,18 Joule
1 Kalori adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk memanaskan 1 gram zat untuk menaikkan suhu 1ᵒC. Jumlah kalor tersebut disebut kalor jenis
Q = m.c. T
dengan satuan kalor jenis (c)  adalah J/gᵒC atau J/KgᵒC (Petrucci, 1987 : 165).
Kalor yang dibutuhkan untuk meleburkan 1 Kg zat padat menjadi zat cair pada titik leburnya. Kalor lebur mempunyai harga yang sama dengan persamaan kaor lebur (L);
L=    atau  Q=m.L
Sehingga satuan pada kalor lebur adalah J/Kg. Dan jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menguapkan 1 Kg zat pada titik didihnya didapat dengan persamaan;
Q=m.U
Dengan kalor uap (U) memiliki satuan J/Kg (Umar, 2008 : 110-111).
Untuk menghitung kapasitas kalor (C) suatu zat yang merupakan jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sejumlah zat sebesar 1ᵒC dapat dicari dengan persamaan;
C =    atau C = m.c
Dengan satuan kapasitas kalor (C) adalah J/ᵒC dan kalor jenis (c) adalah J/ KgᵒC (Chang, 2004 : 172-173).
2.2       Kalorimeter
Kalorimeter adalah alat yang dipakai untuk percobaan yang berhubungan dengan kalor. Kalorimeter didesain sedemikian sehingga perpindahan kalor ke lingkungannya terjadi seminimum mungkin. Pada dasarnya  sebuah kalorimeter terdiri dari dua bejana yang terpisahkan oleh ruang udara (ingat udara adalah penghantar yang buruk). Bejana disebelah dalam terbuat dari alumunium mengkilat untuk megurangi penyerapan kalor oleh bejana (dinding). Tutp bejana terbuat dari kayu yang merupakan penghantar yang buruk (agar tidak banyak panas yang hilang) (Surya, 2002 : 33).
2.2.1  Kalorimeter Volume-Konstan
Kalor pembakaran biasanya diukur dengan menempatkan senyawa yang diketahui dalam wadah baja yang disebut kalorimeter bom volume konstan yang diisi pada tekanan 30 atm dengan oksigen. Sampel dihubungkan kelistrik dan kalor yang dihasilkan pembakaran dapat dihitung dengan mencatat kenaikkan suhu air. Kaorimeter ini memungkinkan kita untuk mengansumsikan bahwa tidak ada kalor (atau massa) yang hilang kelingkungan selama waktu pengukuran. Jadi kita dapat menyebut bom itu dan air tempat pencelupannya sebagai sistem terisolasi. Karena tidak ada kalor yang masuk atau meninggalkan sistem selama proses berlangsung, perubahan kalor sistem (Qreaksi) harus nol dan dapat ditulis dengan;
Qsistem = Qkal +Qreaksi
     = 0
(Gambar 1 : Kalorimeter Bom Volume Konstan)
2.2.2 Kalorimeter Tekanan-Konstan
Kalorimeter ini mengukur kalor pada berbagai reaksi, seperti penetralan asam-basa, kalor pelarutan dan kalor pengenceran. Kaena tekanannya yang tetap, perubahan kalor untuk proses (Qreaksi) sama dengan perubahan entalpi. Dengan mengabaikan kapasitas kalor karena kalorimeter ini terbuat dari dua cangkir Styrofoam. Dan kalor yang dihasilkan atau diserap reaksi dapat ditentukan dengan mengukur perubahan suhu (Chang, 2004 : 173-176).
(Gambar 2 : Kalorimeter Tekanan Konstan)


BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1       Alat dan Bahan
3.1.1        Alat
1.    Kalorimeter
Digunakan untuk mengukur kalor atau energi panas.
2.    Termometer
Digunakan untuk mengukur suhu.
3.    Pemanas dan bejana didih
Digunakan untuk memanaskan air.
4.    Neraca
Digunakan untuk menimbang suatu benda.
3.1.2           Bahan
1.      Keping-kepingan logam
Digunakan sebagai bahan untuk menentukan kalor jenis logam.
2.      Es batu
Digunakan sebagai bahan untuk menetukan kalor lebur es.
3.      Air
Digunakan untuk menentukan nilai air kalorimeter.











3.2       Cara Kerja
3.2.1 Menentukan Nilai Air Kalorimeter
1.         Dididihkan air dibejana didih, dicatat temperatur saat air mendidih (Tp).
2.         Ditimbang kalorimeter kosong dengan pengaduknya, dicatat massa kalorimeter (mk).
3.         Diisi kalorimeter dengan air (± ¼ bagian kalorimeter), dicatat massa air (ma).
4.         Dimasukkan kalorimeter kedalam selubung luarnya, dicatat temperatur termometer (Ta).
5.         Ditambahkan air mendidih hingga ¾ bagian, dicatat temperatur kesetimbangan (Ts).
6.         Ditimbang kembali kalorimeter tanpa selubung, dicatat massa air yang ditambahkan (mp).
3.2.2 Menentukan kalor lebur es
1.         Disipkan potongan es, dicatat temperatur es tersebut (Tes).
2.         Ditimbang kalorimeter kosong dengan pengaduknya, dicatat sebagai massa kalorimeter (mk).
3.         Diisi kalorimeter dengan air (± ½ bagian kalorimeter), dicatat massa air (ma).
4.         Dimasukkan kalorimeter kedalam selubung luarnya, dicatat temperatur kalorimeter (Ta),
5.         Dimasukkan potongan es kedalam kalorimeter, dicatat temperatur kesetimbangan (Ts).
6.         Ditimbang kembali kalorimeter tanpa selubung, dicatat massa es yang ditambahkan (mes).




3.2.3 Menentukan klor jenis logam
1.         Ditimbang keping-kepingan logam catat sebagai mlgm dan dipanaskan, dicatat temperatur  logam tersebut (Tlgm).
2.         Ditimbang kalorimeter kosong dengan pengaduknya, dicatat massa kalorimeter (mk).
3.         Diisi kalorimeter dengan (± ¾ bagian kalorimeter) dicatat massa air (ma).
4.         Dimasukkan kalorimeter kedalam selubungnya, dicatat temperatur kalorimeter (Ta).
5.         Dimasukkan keping-keping logam tadi kedalam kalorimeter dan dicatat temperatur kesetimbngan (Ts).
6.         Diulangi untuk logam-logam lainnya.


BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN
4.1       Data Pengamatan
Keadaan Laboratorium
Sebelum Percobaan
Sesudah Percobaan
Suhu
31,7 oC
31,6 oC
Kelembaban Relatif
85,0 %
87,3 %

4.1.1 Nilai Air Kalorimeter
Tp (oC)
Mk (kg)
Ma (kg)
Ta (oC)
Ts (oC)
Mp (kg)
98
105 10-3
26,2 10-3
29
72
73,8 10-3
94
105,4 10-3
35 10-3
30
66
97,9 10-3

4.1.2 Kalor Lebur Es
Tes (oC)
Mk (kg)
Ma (kg)
Ta (oC)
Ts (oC)
Mes (kg)
1
109,5 10-3
59,8 10-3
28
4
46,6 10-3
1
109,5 10-3
59 10-3
28
2
44,7 10-3

4.1.3 Kalor Jenis Logam
Jenis Logam
Mlgm (kg)
Tlgm (oC)
Mk (kg)
Ma (kg)
Ta (oC)
Ts (oC)
Besi
10 10-3
93
105,5 10-3
87,4 10-3
29
30
Besi
51 10-3
75
105,5 10-3
90,5 10-3
29
33
Kuningan
100 10-3
81
105,6 10-3
91,3 10-3
30
36




4.2       Perhitungan
4.2.1 Nilai Air Kalorimeter
=
         
=

4.2.2 Kalor Lebur Es

4.2.3 Panas Jenis (c)
1. Besi 10 gram
2. Besi 51 gram





3. Kuningan 100 gram

4.2.4 Kapasitas Kalor (C)
1. Besi 10 gram
  
  
2. Besi 51 gram
  
  
3. Kuningan 100 gram
  
  



4.2.5 Teori Ralat
4.2.5.1 Nilai Air Kalorimeter
=  = 124,495 J/oC
RM         =
                                    =
                                    =
                                    =
                                    = 67,154 J/oC
RN      =  100% 
=  100% 
= 53,94%

4.2.5.2 Kalor Lebur Es
=  = 132.199,099 J/kg
RM         =
                                    =
                                    =
                                    =
                                    = 15.908,1727 J/kg
RN      =  100% 
=  100% 
= 12,03%


4.2.5.3 Panas Jenis / Kalor Jenis
=  = 598,33 J/kgoC
RM         =
                                    =
                                    =
                                    =
                                    = 100,0798 J/kgoC
RN           =  100% 
=  100% 
= 16,73%

4.2.5.4 Kapasitas Kalor Kalor
=  = 30,9043 J/oC
RM         =
                                    =
                                    =
                                    =
                                    = 22,9754 J/oC
RN      =  100% 
=  100% 
= 74,34%




4.3       Pembahasan
Pada praktikum kali ini akan membahas mengenai kalorimeter, dimana kalor merupakan besaran fisika yang memiliki satuan. Kalor tidak dapat terlihat oleh mata, tetapi dapat dirasakan pengaruhnya di kehidupan. Contohnya pada saat tengah hari maka pintu lipat akan memuai dikarenakan energi panas sehingga sulit untuk menutup pintu tersebut. Hal ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Pengukuran kalor sendiri dapat menggunakan alat yang dinamakan dengan kalorimeter.
Pada praktikum ini adapun tujuan dari percobaan yaitu menentukan kalor lebur es dan menentukan panas jenis serta kapasitas panas berbagai logam. Praktikum ini dilakukan tiga kali percobaan yaitu nilai air kalorimeter, kalor lebur es, dan kalor jenis logam. Sebelum melakukan praktikum ,percobaan kali ini erat sekali dengan kaitannya  dengan suhu dan kelembaban lingkungannya. Dimana pada saat percobaan berlangsung diketahui suhu dan kelembaban lingkungannya. Pada saat praktikum berlangsung diketahui suhu sebelum percobaan adalah 31,7 derajat celcius dan setelahnya 31,6 derajat celcius. Suhunya menurun, namun tetap dalam skala yang tinggi sehingga hal ini tidak mempengaruhi bahan-bahan serta alat yang akan diuji. Sementara kelembaban relatif sebelum percobaan adalah 85% dan setelahnya adalah 87,3%.
1.         Menentukan Nilai Air Kalorimeter
Dalam percobaan ini digunakan alat pengukur jumlah energi panas atau energi kalor yaitu kalorimeter. Kalorimeter yang digunakan terbilang cukup sederhana, kalorimeter harus terlebih dahulu dilengkapi  dengan termometer untuk mengukur suhu didalamnya dan batang pengaduk untuk mengaduk larutan didalamnya. Bagian luar atau selubung dari kalorimeter dibuat dengan bahan isolator sehingga ketika kalorimeter dimasukkan ke selubung luarnya maka tidak akan terpengaruh lagi dengan panas di lingkungan.
Dalam percobaan ini, pendidihan air dilakukan belakangan karena suhu air yang diperlukan  adalah suhu pada saat air mendidih. Sehingga apabila pendidihan dilakukan pertama kali sesuai pada prosedur percobaan, maka akan mengakibatkan penurunan suhu bila dibiarkan terlalu lama.
Percobaan ini melakukan dua kali pengulangan, didapatkan massanya berubah-ubah. Hal demikian dapat terjadi karena pengaruh suhu. Pengaruh suhu disini maksudnya adalah pada pengulangan pertama kalorimeter diisi dengan air biasa lalu suhu kesetimbangan di dapat setelah mencampurnya dengan air mendidih, otomatis suhu air didalam atau Ts mempengaruhi suhu wadah kalorimeter dan pada pengulangan kedua digunakan kalorimeter yang sama. Dengan demikian diketahui bahwa suhu tadi mempengaruhi massanya, dimana suhu suhu tinggi atau suhu panas dapat menambah massa dari suatu benda atau zat.
Tujuan pertama percobaan ini adalah mencari nilai air kalorimeter. Nilai air kalorimeter diperoleh dari penjumlahan kalor atau Qair biasa dengan Qair panas. Sehingga Na yang didapat melalui percobaan ini adalah 77,06 J/ oC untuk pengulangan pertama dan 171,98 J/ oC untuk pengulangan yang kedua. Dimana pengulangan pertama didapatkan suhu awal 29 oC dan suhu campuran 72 oC sedangkan pada pengulangan kedua didapatkan suhu awal 30 oC dan suhu campuran 66 oC. Dan untuk massa air biasa yang digunakan pada pengulangan pertama adalah 26,2 10-3 kg dan massa air panas 73,8 10-3 kg sedangkan untuk massa air biasa yang digunakan pada pengulangan kedua  adalah 35 10-3 kg dan massa air panas 97,9 10-3 kg. Berdasarkan ketetapan rumus nilai air kalorimeter, perbedaan  nilai air kalorimeter tersebut disebabkan oleh suhu dan massa yang berbeda disetiap pengulangan.
2.         Menentukan Kalor Lebur Es
Pada percobaan ini menggunakan bahan yaitu es batu. Seperti yang diketahui bahwa air memiliki titik beku 0 C disaat membeku menjadi es. Namun yang terjadi pada percobaan ini adalah es batu yang digunakan pada saat suhunya diukur, suhu es atau Tes mencapai 1 oC. Hal demikian mungkin terjadi karena pengaruh suhu dilingkungan. Dimana pada saat percobaan berlangsung suhunya terbilang tinggi sehingga es batu sedikit mencair dan suhunya naik.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, didapatkanlah dengan rumusan Qlebur yang akan dicari disini adalah kalor lebur es yang dilambangkan dengan Les. Kalor lebur memiliki definisi sebagai banyaknya kalor yang diperlukan oleh satu kilogram zat untuk merubah wujud padat menjadi cair. Kalor lebur es yang didapatkan dalam percobaan adalah 120.950,3226 J/Kg untuk pengulangan pertama dan 143.447,8747 J/Kg untuk pengulangan kedua. Perbedaan terlihat pada massa esnya dan massa air biasa yang digunakan, dimana pada pengulangan pertama massa es 46,6 10-3kg dan pada pengulangan kedua massa esnya 44,7 10-3kg dikarenakan saat pengukuran yang kedua massa esnya telah berkurang akibat es batu yang sudah banyak mencair. Sedangkan pada massa air biasa pada pengulangan pertama 59,8 10-3kg dan massa air biasa pada pengulangan kedua adalah 59 10-3kg.
Bila dibandingkan dengan literatur, ketetapan untuk kalor lebur es adalah 333.000 J/Kg. Hal ini sangat berbeda dengan kalor lebur es yang didapat dari percobaan. Penyebabnya bisa dikarenakan pada literatur titik beku airnya berada pada 0oC (Giancolli,2014:491-492).
3.         Menentukan Kalor Jenis Logam
Pada percobaan ini menggunakan  tiga jenis logam yaitu dua buah logam besi dan kuningan. Massa logam sudah tertera pada permukaan logam, masing-masing logam 10 gram,50 gram dan 100 gram. Namun sesuai dengan langkah kerjanya maka logam yang sudah diketahui massanya tadi ditimbang kembali. Terjadi perbedaan massa pada logam besi bermassa 50 gram, dimana skala menunjukkan bahwa massa logam besi ini adalah 51gram. Hal demikian bisa saja terjadi karena adanya kesalahan pada saat penimbangan. Namun mengingat setiap sebelum menimbang neraca selalu dikalibrasi ulang, maka hal ini bisa saja akibat logam besi yang sering dipanaskan. Hal ini bisa dikaitkan dengan penemuan yang diamati oleh lavoiser sebelum mencetuskan hukum lavoiser. Dimana ia membuktikan bahwa jika sebuah logam dipanaskan diudara, maka massa logamnya akan bertambah sesuai dengan massa oksigen ysng diambilnya dari udara tersebut. Dari sini bisa diketahui bahwa logam ini mudah menyerap panas atau kalor. Logam yang mudah atau cepat menyerap panas adalah logam besi. Besi merupakan konduktor yang sangat baik.
Berdasarkan percobaan ini, dapat dihitung kalor atau panas jenis logam yang dilambangkan dengan c. panas jenis adalah banyaknya energi yang dibutuhkan untuk menaikkan satu derajat celcius pada satu gram zat murni. Disini terjadilah prinsip atau azas black, kalor yang dilepas sama dengan kalor yang diterima. Kalor yang dilepas berasal dari logam sedangkan yang menerima adalah air. Nilai c untuk masing-masing logam adalah 579,89 J/KgᵒC; 706,42 J/KgᵒC;dan 508,84 J/KgᵒC.
Berdasarkan literatur , nilai kalor jenis untuk logam besi adalah 450 J/KgᵒC dan kuningan dalam literatur tidak tercantumkan datanya. Namun seperti yang diketahui kuningan merupakan gabungan antara tembaga dan seng. Untuk perbandingan, kalor jenis tembaga 390 J/KgᵒC. Nilai literatur pun berbeda dengan hasil percobaan. Hal ini diakibatkan karena kesalahan penimbangan massa,aturan suhu logam,pengaruh lingkungan, hingga perbedaan massa logam yang digunakan pada literatur. Untuk suhu pada literatur dilakukan pada suhu 20 ᵒC , ini merupakan perbedaan dari suhu lingkungannya. Sebagai perbandingan pada literatur nilai cair pada berbagai wujudnya sangat tinggi dibandingkan logam. Hal ini mengakibatkan logam lebih cepat panas dibandingkan dengan air.
Penentuan kapasitas kalor atau C dipengaruhi oleh masa logam dan kalor jenis suatu logam. Kalor jenis logam yang digunakan adalah yang didapat dari hasil percobaan. Sehingga didapatkan nilai kapasitas kalor C secara berurutan adalah 5,7989 J/C dan 36,03 J/C.
Adapun hal lain yang dapat terjadi dan berpengaruh pada percobaan ini adalah kesalahan dalam penggunakan alat-alat praktikum seperti kesalahan titik nol pada neraca atau kesalahan kalibrasi alat yang digunakan, dimana skala pada alat sebelum pengukuran tidak tepat pada skala nol sehingga mempengaruhi hasil sebenarnya, kesalahan paralaks yaitu kesalahan praktikan dalam pembacaan skala pada pengukuran, atau dapat disebakan juga oleh kondisi alat yang digunakan kurang baik atau mengalami kerusakan.
BAB V
PENUTUP
5.1       Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1.   Nilai air kalorimeter yang didapat adalah sesuai dengan rumus;
2. Kalor lebur es yang didapatkan pada percobaan ini sesuai dengan rumus;
3. Didapatkan nilai panas jenis besi dengan menggunakan rumus;
4. Berdasarkan data pada panas jenis dapat ditentukan kapasitas kalor besi dengan
     rumus;
5.2       Saran
Sebaiknya alat kalorimeter yang digunakan dalam kondisi lebih baik lagi, karena kondisi kalorimeter yang digunakan pada praktikum ini sudah tidak memiliki pengaduk serta kurangnya keakuran pada alat yang menyebabkan terjadinya kesalahan.



DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond . 2004 . Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid
            I . Jakarta : Erlangga.
Petrucci, Ralph H . 1987 . Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 2 Edisi
Keempat . Jakarta : Erlangga.
Pudjaatmaka, A Hadyana . 2002 . Kamus Kimia . Jakarta : Balai Pustaka.
Surya, Yohanes . 2009 . Suhu dan Termodinamika . Tanggerang : PT. Kandel.
Umar, Efrizon . 2008 . Buku Pintar Fisika . Jakarta : Media Pusindo.



JAWABAN PERTANYAAN

1.    Berikan pembahasan tentang asas Black sehingga mendapatkan persamaan yang akan digunakan pada percobaan ini (A,B,C) ?
Jawab :
Menurut asas Black, apabila ada 2 benda yang memiliki suhu yang berbeda, kemudian disatukan, maka akan terjadi aliran kalor dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah. Aliran ini akan berhenti sampai terjadi kesetimbangan termal, (suhu kedua benda sama), secara matematis :
Q lepas = Q terima .
Kapasitas kalorimeter :
∆Q air + ∆Q k = ∆Q air mendidih
m1 x c1 x ∆T1 + mk x ck x ∆T = m2 x c2 x ∆T2
Sehingga ck dapat ditentukan.

2.    Tuliskan definisi panas jenis, kalor lebur, kapasitas kalor? Tulis dimensi dari masing-masing besaran ?
Jawab :
1.      Kalor Jenis : Banyaknya kalor yang diserap oleh suatu benda bermassa
tertentu untuk menaikkan suhu sebesar 1oC.
Dimensi : [L]2 [T]-2[ѳ]-1
2.      Kalor Lebur : Banyaknya kalor yang diperlukan oleh 1 kg zat untuk                                         merubah wujud dari padat menjadi cair.
Dimensi : [L]2 [T]-2
3.      Kapasitas Kalor : Banyaknya kalor yang diserap oleh suatu benda bermassa                             tertentu untuk menentukan suhu sebesar 1oC.
Dimensi : [M] [L]2 [T]-2[ѳ]-1



3.    Apa yang dimaksud dengan nilai air kalorimeter ?
Jawab :
Nilai air kalorimeter adalah kapasitas kalor kalorimeter yang dinyatakan dengan kapasitas kalor air.

4.    Apa yang dimaksud dengan kesetimbangan ?
Jawab :
Kesetimbangan adalah keadaaan dimana temperatur dan tekanan suatu sistem memiliki harga yang sama.




EVALUASI AKHIR

1.    Hitung nilai air kalorimeter ?
Jawab :
Na1             =   
            =  
            =  
            =  77,01 J/ ̊C
Na2             = 
= 171,98 J/ ̊C

2.    Hitung kalor lebur es, panas jenis logam dan kapasitas kalor dari logam yang digunakan ?
Jawab :
1.      Kalor Lebur Es
Q lebur = Mes x Les
Ma x ca x ∆T = Mes x Les
59,8 x  x 4180 x 24= 46,6 x   x Les
Les1 = 120.950,32 J/kg
Q lebur = Mes x Les
Ma x ca x ∆T = Mes x Les
59 x  x 4180 x 26   = 44,7 x  x Les
Les2      = 143.447,87 J/kg


2.      Panas Jenis Logam
1.      Besi 10 gram
Q logam      =          Q air
M logm x C logm x ∆T      =          M air x C air x ∆T
10 x  x C logm x 63   =     87,4 x  x 4180 x 1
C lgm = 579,89 J/kg ̊C
2.      Besi 51 gram
Q logam      =          Q air
M logm x C logm x ∆T      =          M air x C air x ∆T
51 x  x C logm x 42   =     90,5 x  x 4180 x 4
C lgm = 706,42 J/kg ̊C
3.      Kuningan 100 gram
Q logam      =          Q air
M logm x c logm x ∆T       =          M air x c air x ∆T
100 x  x c logm x 45  =     91,3 x  x 4180 x 6
C lgm = 508,84 J/kg ̊C
3.    Kapasitas Kalor
C = M logm x c logm
1.      Besi 10 gram
C    = 10 x  x 579,89
= 5,7989 J/ ̊C
2.      Besi 51 gram
C    = 51 x  x 706,42
= 36,03 J/ ̊C
3.      Kuningan 100 gram
C    = 100 x  x 508,84
= 90,884 J/ ̊C
Berdasarkan literatur, nilai kalor jenis besi adalah 450 J/kg ̊C, sedangkan kuningan sekitar 380 J/kg ̊C, dan untuk kalor lebur air adalah 333 x  J/kg, untuk titik beku 0 ̊C.
3.    Buat analisis dan berikan kesimpulan percobaan ?
Jawab :

Setelah dilakukan pengolahan data, didapat bahwa hasil yang diperoleh pada percobaan, sedikit berbeda dengan tetapan yang ada di literatur. Setelah dianalisis, hal ini disebabkan memungkinkannya praktikan melakukan kesalahan, namun selain itu faktor eksternal seperti suhu dan kelembaban, serta perlakuan yang diberikan bisa menjadi faktor lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar